SOAL UK II EVALUASI

PETUNJUK

1.  Silahkan download soal UK pada Link yang tersedia.

2.  Soal boleh dikerjakan di rumah

3.  Jawaban di kumpulkan di meja Dosen Pengampu “Baskoro Adi Prayitno”

Paling Lambat hari Jumat, 11 Mei 2012 Pukul 09.00 WIB.

4.  Jawaban di kumpulkan dalam bentuk Hard file dalam tulisan Tangan.

5.  Soal dikerjakan secara mandiri. Jika ada indikasi “duplikasi” dan bentuk

kecurangan yang lain, jawaban akan diberi nilai E.

DOWNLOAD SOAL

1.  Soal Evaluasi di Download DISINI

 

 

SOAL UK EVALUASI

UK I

EVALUASI PEMBELAJARAN BIOLOGI

KELAS: A, B, SBI.

Petunjuk:

1.  Silahkan download soal UK dan lampiran soal di menu yang tersedia.

2.  Soal boleh dikerjakan di rumah

3.  Jawaban dikumpulkan lewat e-mail pengampu Mata kuliah.

      a. Bowo Sugiharto:  bowo@fkip.uns.ac.id

      b. Baskoro Adi Prayitno: baskoro_ap@uns.ac.id

4.  Jawaban diterima paling lambat hari senin 9 April 2012 pukul 21.00 WIB

5.  File Jawaban diberi nama  NIM-KELAS-NAMADEPAN. Format PDF

     Contoh: K4308070-B-ANNISA

DOWNLOAD SOAL DAN LAMPIRAN SOAL

1.  Soal UK I Evaluasi dapat di download DISINI

2. Lampiran Soal UK Evaluasi dapat di download DISINI

 

 

 

 

A. Monoesis

HIDUP TIDAK UNTUK MENYENANGKAN SEMUA ORANG

HIDUP TIDAK UNTUK MENYENANGKAN SEMUA ORANG
KITA TIDAK MUNGKIN MENYENANGKAN SEMUA ORANG

Oleh:
Baskoro Adi Prayitno

saya meminta dia untuk menarik kesimpulan berdasarkan cerita saya tentang keluarga Lukman, dia diam saja, tetapi saya dapat merasakan bahwa beban berat yang dia ’pikul’ sedikit berkurang, Dia pamit pada saya dengan menghadiahi saya sebuah senyuman dan ucapan terimakasih, dari senyuman dan kalimat terimakasih yang dia ucapkan saya dapat merasakan ada nuansa rasa yang berbeda dibandingkan dengan pertama kali dia datang. Memang kita tidak akan bisa memuaskan semua orang dan memang hidup tidak untuk memuaskan semua orang…

Beberapa hari yang lalu saya di datangi oleh salah seorang mahasiswi, dia menanyakan, apa saya ada waktu untuk berbincang-bincang dengannya, karena memang kebetulan tidak ada pekerjaan di kantor, saya mempersilahkan mahasiswi tersebut duduk, pada mulanya saya mengira mahasiswi  ini akan menanyakan persoalan terkait dengan matakuliah yang  saya ampu, namun dugaan saya rupanya keliru, dia ’curhat’ pada saya tentang permasalahan yang menurut dia sangat mengganggunya, pada intinya mahasiswi ini bersama pacarnya memutuskan untuk menikah di usia muda untuk menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama, dan kedua orang tua kedua mahasiswa ini setuju. Setelah mereka menikah beberapa permasalahan muncul, terutama permasalahan terkait dengan desas-desus yang beredar di kalangan teman kuliah dan tentangganya bahwa dia menikah karena ’kecelakaan’ (maried by accident), dan ’gosip’ ini rupanya sangat mengganggu dia dan suaminya dan dia meminta saran saya bagaimana mengatasi permasalahan ini. (saya baru sadar menjadi seorang dosen ternyata tidak selalu berkutat dengan dunia keilmuan, kadang kala mau tidak mau kita ’terlibat’ dalam urusan ’rumah tangga’ mahasiswa-mahasiswa kita)

Saya tertegun agak lama  memikirkan apa yang dapat saya sarankan kepada mahasiswi ini, paling tidak saran tersebut dapat sedikit meringankan beban dihatinya. Seingat saya, selama menuntut ilmu mulai dari SD sampai perguruan tinggi, saya tidak pernah dibekali ’ilmu’ atau ’jurus’ jika menghadapi persoalan semacam ini. Pikiran saya berputar-berputar  sampai tiba-tiba muncul dalam benak saya tentang kisah keluarga Lukman yang pernah diceritakan oleh Bapak pada saat saya masih kecil dulu.

KISAH KELUARGA LUKMAN
Akhirnya saya menceritakan kisah keluarga Lukman kepada mahasiswi  tersebut, dikisahkan Lukman sedang berjalan-jalan di pasar dengan anaknya ditemani dengan seekor keledai, dalam perjalanan orang-orang disekitar pasar saling berbisik-bisik membicarakan Lukman dan anaknya  ’eh kedua orang itu benar-benar bodoh, sudah membawa keledai tapi tidak dinaiki, benar-benar orang yang bodoh’, Lukman dan anaknya mendengar omongan orang-orang disekitarnya, akhirnya Lukman dan anaknya memutuskan menaiki keledai tersebut bersama-sama, tidak seberapa lama mereka berjalan orang-orang disekitar lukman saling berbisik-bisik kembali membicarakan Lukman dan Anaknya ’kedua orang itu benar-benar tidak punya kasihan, masak Keledai sekecil itu dinaiki berdua’ Lukman dan anaknya mendengar omongan orang-orang tersebut dan memutuskan bahwa anaknya yang menaiki keledai sedangkan Lukman mengiringi dibelakangnya sambil berjalan kaki, tidak jauh mereka berjalan orang-orang disekitar Lukman dan anaknya berbisik-bisik membicarakan mereka berdua ”benar-benar anak durhaka…teganya membiarkan ayahnya yang sudah renta berjalan kaki sedang dia enak-enak naik keledai’ Lukman dan anaknya mendengar omongan orang-orang ini dan memutuskan bahwa Lukman yang naik ke punggung keledai sedangkan anaknya mengiringi dibelakangnya sambil berjalan kaki, tidak jauh mereka berjalan orang-orang disekitar mereka kembali berbisik-bisik membicarakan Lukman dan anaknya ”benar-benar ayah yang egois, membiarkan anaknya yang masih kecil berjalan kaki kepanasan, sedangkan ia enak-enakan duduk diatas keledai dengan nyaman” Lukman dan anaknya mendengar bisik-bisik orang-orang disekitarnya, akhirnya mereka memutuskan mengikat kedua kaki keledai dan kemudian memikul keledai itu bersama-sama anaknya, tanpa lagi menghiraukan orang-orang disekitarnya yang menganggap mereka telah gila berjalan-jalan dengan menggendong keledai”

KITA TIDAK AKAN BISA MEMUASKAN SEMUA ORANG
Dari cerita ini saya  meminta mahasiswi  tadi menarik sebuah kesimpulan, dia memang diam saja, tetapi saya dapat melihat bahwa beban berat yang dia rasakan sedikit berkurang, Dia pamit dengan menghadiahi saya sebuah senyuman dan ucapan terimakasih…, dari senyuman dan kalimat terimakasih yang dia ucapkan, saya dapat merasakan ada sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan pertama kali ketika ia meminta saya meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya. Memang kita tidak akan bisa memuaskan dan menyenangkan semua orang, seperti cerita Lukman yang gagal mencoba memuaskan dan menyenangkan semua orang dan memang hidup tidak untuk memuaskan dan menyenangkan semua orang…

atau…. ada orang yang bisa menyenangkan dan memuaskan semua orang?

KETIKA ILMU TIDAK ADA BEDA DENGAN SENI

KETIKA ILMU TIDAK ADA BEDA
DENGAN PUISI JOKO PIN DAN LAGU IWAN FALS ?

Oleh:
Baskoro Adi Prayitno

Saat ini ada kecenderungan ilmu tidak ada bedanya dengan bermain gitar, menyanyi  atau membaca sajak cinta, ilmu mulai kehilangan kegunaan praktis kecuali hanya nilai estetis, ilmu lebih diorientasikan kepada pemenuhan kepuasan jiwa ilmuwan daripa untuk usaha memecahkan masalah pragmatis. Ilmu menjelma menjadi pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan pada saat berdebat, makin hafal teori up to date makin hebat. Kalau sudah begini ‘apa beda antara ilmu dengan puisi Joko Pin atau Lagu Iwan Fals? Kini saatnya kita kembalikan aksiologi ilmu pada tempatnya yang ”benar”.

Saya yakin banyak dari sampean bingung atau paling tidak sedikit mengernyitkan dahi dalam ’memaknai’ maksud judul di atas. Mungkin sampean bertanya-tanya, apa kaitannya ilmu dengan puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals?. Sebagian besar orang mungkin menganggap tidak ada kaitannya antara ilmu dengan Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals. Namun jika sampean seorang pencermat acara televisi, terutama acara debat dengan melibatkan ilmuan-ilmuwan ternama Indonesia, atau sampean termasuk dalam golongan orang-orang iseng  yang tidak ada pekerjaan lain, selain mencermati pergeseran orientasi aksiologi ilmu di Indonesia, atau sampean seorang mahasiswa yang terbiasa melihat dan mendengar dosen-dosen dan profesor sampean yang luar biasa ketajaman berpikirnya, namun ketajaman berpikir ini tidak punya nilai praktis dalam membantu memecahkan masalah dalam dunia nyata, saya yakin sampean dapat mengetahui atau paling tidak dapat meraba maksud dan makna judul di atas. Bagi sampean yang tidak termasuk dalam ketiga golongan tersebut mari kita lihat bersama-sama apa yang mendasari saya ’berani’ mengatakan bahwa ada kecenderungan ilmu sudah tidak ada bedanya dengan Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals terutama untuk konteks Indonesia saat ini.

BUKTI PERGESERAN AKSIOLOGI ILMU

Barangkali bukan merupakan hal yang aneh jika hampir setiap hari kita melihat acara televisi menayangkan acara debat dengan menghadirkan para ilmuwan-ilmuwan ternama di negeri ini, atau kita sering menghadiri bahkan terlibat secara langsung dalam acara-acara semacam itu. Mereka para ilmuwan sambil duduk minum teh atau kopi hangat ditemani makanan ringan lainnya berdebat tentang berbagai masalah, dari masalah nuklir sampai dengan masalah anak jalanan, mereka dengan sangat lihai menyahut, menyanggah, mempertahankan pendapat dengan didasari oleh teori-teori ilmiah yang paling up to date, sangat luar biasa…mengaggumkan…. Setelah itu….? Selesai…., tidak ada manfaat praktis yang diperoleh selain tepuk tangan dan decak kagum  dari peserta diskusi…cck….cck…cck…., atau sebuah kepuasan jiwa bagi ilmuwan yang telah berhasil membuktikan ketajaman berpikirnya di arena perdebatan yang menantang dan mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai seorang ilmuwan.

Kalau keadaanya sudah begini, kata Prof. Jujun, ilmu sudah tidak ada bedanya dengan bermain gitar, menyanyi  atau membaca sajak cinta, ilmu tidak lagi mempunyai kegunaan praktis selain hanya kegunaan estetis, ilmu lebih ditujukan kepada pemenuhan kepuasan jiwa ilmuwan daripa memecahkan masalah praktis. Ilmu sekedar pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan pada saat berdebat, makin hafal teori yang up to date maka semakin hebat. Pertanyaan selanjutnya ‘apa beda antara ilmu dengan puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals?’, coba sampean pikirkan?…, jelas tidak ada bedanya kecuali perbedaan ejaannya i-l-m-u   dan s-e-n-i, serta rombongan penggemar, rombongan penggemar iwan fals melabeli dirinya OI (orang Indonesia), rombongan penggemar slank melabeli dirinya Slanker, barangkali rombongan penggemar ilmuwan melabeli kelompoknya dengan nama kaum intelek, sedangkan secara esensi nyaris tidak ada beda diantara keduanya (ilmu dengan seni).

menurut hemat saya akar masalah dari hal ini adalah ‘filsafat’ mereka yang cenderung memandang rendah pekerjaan-pekerjaan yang berbau praktis-pragmatis, adalah tidak pada tempatnya jika seorang ilmuwan yang terhormat memikirkan masalah-masalah yang tidak sesuai dengan status sosial mereka, apa lagi melakukan tindakan-tindakan konkret, bukankah pekerjaan praktis yang memeras keringat adalah pekerjaan kaum kuli?…

KEMBALIKAN AKSIOLOGI ILMU PADA TEMPAT SEMULA

Kita semua sepakat bahwa Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals adalah fungsional (bermanfaat) bagi kehidupan kita, Puisi Joko Pin dan Lagu Iwan Fals memberikan kenikmatan batiniah, jiwa kita tergetar, terharu, tersentuh oleh lirik dan kata-kata yang artistik menembus dunia makna yang sulit terindra. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah luas, diri kita bertambah dewasa dan boleh jadi hal ini akan merubah sikap dan perilaku kita menjadi lebih bijaksana. memang kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak karya sastra dan lagu (seni) mampu mengubah sebuah peradaban di dunia ini.

Namun demikian harus tetap disadari, terdapat perbedaan fungsi antara seni dan ilmu, Lagu Iwan Fals mungkin menyadarkan kita tentang permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di negara kita, mungkin dengan lagu itu jiwa kita tergetar, menyadarkan kita bahwa sangat banyak permasalahan sosial disekitar kita, namun yang jelas kita tidak bisa memecahkan masalah sosial tersebut hanya dengan jiwa yang tergetar atau hanya dengan sekedar bernyanyi menyandang gitar. Ilmuwan perlu melakukan tindakan-tindakan konkret, tentu saja bukan dengan membentuk boy band atau vocal group melainkan melakukan kegiatan fungsional prakmatis berdasarkan keilmuan yang mereka miliki, bukan hanya sekedar berdebat tanpa manfaat praktis, kecuali hanya sekedar tepuk tangan atau decak kagum penonton (baca: peserta debat/diskusi) atas ketajaman berpikir mereka, sebagaimana ketika Joko Pin membacakan Puisi atau Iwan Fals menyanyikan lagu di hadapan para penggemarnya yang juga diiringi tepuk tangan dan decak kekaguman…

Menyitir Tulisan Prof Jujun, buku teks ilmuwan itu seharusnya tidak jauh berbeda dengan buku Primbon dukun ramal yang digunakan untuk konsultasi masalah praktis, tentu saja yang membedakan diantara keduanya adalah asas dan prosedurnya, jika ilmuwan buku primbonnya berdasarkan asas dan prosedur ilmu (metode ilmu/ilmiah), sedangkan primbon dukun asas dan prosedurnya didasarkan pada metode ngelmu/klenik. Kadang kala saya berpikir, barangkali maraknya iklan per-klenikkan yang membanjiri media masa kita, serta kecenderungan semakin banyaknya orang mendatangi dukun/paranormal untuk memecahkan permasalahan-permasalahan hidup mereka, salah satunya disebabkan kegagalan para ‘dukun ilmiah’ ini (baca: ilmuwan) ‘membumikan’ teori-teori keilmuwan mereka, banyak dari mereka terjebak dengan hanya puas hanya sekedar tajam berpikir, tangguh ketika berdebat, namun ‘impoten’ketika dihadapkan kepada kegiatan pemecahan masalah praktis.

Mungkin sampean menganggap saya sebagai seorang pragmatis, anggapan sampean barangkali ada benarnya, kalau kita mau berpikir lebih dalam, sebenarnya ilmu itu dikembangkan untuk apa? membantu mempermudah ’kehidupan’ manusia bukan?…

Darwis dan Ahli Bahasa

REPUBLIKA.CO.ID, Pada suatu malam yang gelap, seorang darwis sedang melintasi sebuah sumur kering ketika didengarnya teriakan minta tolong dari dalam sumur itu.

“Apa yang terjadi?” ia berseru ke dasar sumur.

“Saya seorang ahli bahasa,” jawab seseorang dari dalam sumur, “Karena gelap, saya salah melangkah, lalu terjatuh ke sumur dalam ini. Saya tak bisa bergerak di bawah sini.”

“Bertahan, kawan, dan akan kuambil tangga dan tali,” kata sang Darwis.

“Tunggu sebentar!” kata Si Ahli Bahasa, “Tata bahasa dan gaya bicaramu keliru, lebih baik kau betulkan dulu kekeliruanmu itu!”

“Kalau hal itu jauh lebih penting daripada hal yang perlu,” teriak darwis itu, “Tentu kau sebaiknya tinggal saja di situ sampai aku telah belajar bicara dengan benar.”

Dan darwis itu pun meneruskan perjalanannya.

Rektor Unas: Jurnal Ilmiah Baik, Tapi…

KOMPAS.com - Surat edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikti Kemdikbud) yang menjadikan publikasi karya ilmiah sebagai salah satu prasyarat kelulusan mahasiswa (S-1, S-2, S-3) terus menuai tanggapan. Rektor Universitas Nasional (Unas) El Amry Bermawi Putera mengatakan, sampai hari ini pihaknya belum menerima surat edaran tersebut.

Namun demikian, berdasarkan informasi yang diunduh melalui internet, dirinya mengaku mendukung ketentuan tersebut dengan catatan adanya insentif lebih dari Kemdikbud. Ia mengungkapkan, diwajibkannya mahasiswa mempublikasikan makalah dalam jurnal ilmiah akan berdampak baik bagi pembangunan semangat dan produktivitas mahasiswa dalam membaca, menulis, dan melakukan penelitian.

Akan tetapi, menurutnya, waktu yang diberikan oleh Kemdikbud dirasa sangat tergesa. Mengingat, kata dia, aturan tersebut berlaku untuk mahasiswa lulusan setelah Agustus 2012.

“Kami belum menerima surat edaran itu. Kami setuju, namun dengan catatan,” kata El Amry kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (14/2/2012).

Dia menjelaskan, sampai saat ini Unas telah memiliki beberapa jurnal ilmiah, baik yang dikelola universitas maupun fakultas. Bahkan, ada satu jurnal ilmiah yang dikelola oleh Unas, yaitu Jurnal Ilmu Budaya, yang telah terbit sejak 1970-an secara konsisten.

“Ya, tapi itu kan awalnya hanya untuk menampung tulisan dosen, bukan untuk mahasiswa,” ujarnya.

Untuk itu, kata dia, demi mengantisipasi ledakan jumlah makalah yang harus dipublikasi dalam jurnal ilmiah, perlu ada perhatian lebih dari pemerintah. Ia menjelaskan, setiap tahunnya, Unas meluluskan sekitar 800 sampai 1000 mahasiswa (S-1). Dengan jumlah sebanyak itu, diperlu space lebih untuk menampung seluruh makalah mahasiswa dalam jumlah tersebut.

“Jurnal online yang disiapkan pemerintah belum jelas definisinya. Mestinya, ada bantuan agar kita (perguruan tinggi) bisa menciptakan jurnal ilmiah (cetak) atau pun fasilitas untuk mendukung jurnal online,” ungkapnya.

Selain itu, dirinya juga mengaku perlu waktu lebih dalam masa transisi ini. Sampai hari ini, Unas belum melakukan sosialisasi terkait aturan itu kepada para mahasiswanya. Padahal, dalam surat edaran itu tertulis bahwa aturan tersebut berlaku untuk mahasiswa lulusan setelah Agustus 2012.

“Seperti terburu-buru. Saya rasa, Unas belum siap dan rasanya berat mengetahui ada mahasiswa yang kelulusannya tertunda hanya karena belum mempublikasi makalah,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, pada 27 Januari 2012 lalu Dirjen Dikti mengeluarkan surat edaran yang mengatur diwajibkannya seluruh mahasiswa untuk membuat makalah dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Dalam surat tersebut juga diatur mahasiswa S-1 mempublikasikan makalahnya dalam jurnal ilmiah (universitas, fakultas, dan jurnal online), jenjang S-2 melalui jurnal nasional (diutamakan yang terakreditasi Dikti), dan S-3 di jurnal internasional. Surat edaran ini berlaku untuk lulusan setelah Agustus 2012.

Sleep Paralysis: Penyakit Ketindihan Saat Tidur

Ghiboo.com – Pernah terbangun dari tidur, tapi sulit bergerak ataupun berteriak? Tenang, Anda tidak sedang diganggu makhluk halus.

Berdasarkan ilmu medis, keadaan itu disebut sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Namun, banyak masyarakat menyebutnya ‘erep-erep’. Masyarakat juga selalu mengaitkan kondisi ini karena ulah makhluk halus yang menindih tubuh kita.

Fenomena ini bisa terjadi pada siapa saja. Setidaknya orang akan mengalaminya sekali atau dua kali dalam hidupnya. Namun, Anda tak perlu khawatir, sleep paralysis biasanya tidak berbahaya.

Selama tidur, aktivitas dan otot-otot tubuh menjadi tidak bergerak, sehingga menyebabkan kelumpuhan sementara. Bahkan kadang-kadang kelumpuhan tetap ada setelah orang terbangun. Biasanya, kelumpuhan tidur diikuti dengan halusinasi. Orang yang mengalami kelumpuhan tidur merasa seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak.

Ketika seseorang tidur, aktifitas otak mengalami dua hal berbeda, yang disebut tidur aktif atau REM (rapid eye movement) dan tidur non-REM.

Non-REM selama tidur akan menghasilkan gerakkan selagi Anda tidur, seperti berbicara dalam tidur atau berjalan ketika tidur. Sedangkan REM akan mempengaruhi denyut jantung, laju respirasi dan tekanan darah ketika tidur.

Secara psikologis, sleep paralysis berhubungan dengan tidur di tahap REM, dimana setelah mengalami tidur REM, mata terbuka namun paralysis tetap bertahan.

Biasanya hal ini mengakibatkan halusinasi. Sleep paralysis terjadi sekitar 2-3 menit. Setelah otak dan tubuh berhubungan kembali, penderita dapat menggerakkan tubuhnya kembali. Namun, memori dari sensasi yang mengerikan atau mimpi buruk biasanya dapat bertahan lama

Secara fisiologis, penyebab sleep paralysis belum diketahui secara pasti. Sejauh ini, para psikologis memberikan gambaran umum mengenai penyebab terjadinya sleep paralysis, seperti kebiasaan tidur menghadap ke atas, pola tidur tak tentu, stress, dan perubahan mendadak pada lingkungan atau lifestyle.

(Berbagai Sumber)